After loooong time delayed...I write on this blog again. Setelah gue punya diary online lain juga yang pake password dan ladalah gue lupa passwordnya (as usual)..., so here I am...
Pasti dong ada yang mendorong gue buat nulis disini lagi. Betul saudara2..., udah seminggu ini gue galau, kesel, sedih, marah, mellow.., ya pokoknya semua emosi negatif dari fase denial kalo ada sesuatu hal yang kita anggap 'buruk' atau 'gagal' dalam hidup ... (itu yang gue tau setelah dulu proses healing dari broken heart gue, jadi tau banyak mengenai ilmu2 psikologi lah ya)...
Yes, my LPDP has FAILED sodara2..., failed dengan sangat membuat penasaran, di tahapan administrasi. Can you imagine it? dengan alasan LoA gue dianggap on going, padahal udah jelas gue melampirkan surat tunda kuliah.
Only God know what I've been through, and what I've done to prepare all of this f*****g scholarship (ups..., ternyata gue masih kesel bo)...
Setiap hari after pengumuman gue dipenuhi energi negatif. Dan energi negatif itu sungguh jelek prends..., menguras emosi dan energi. Yangs eharusny ague bsa mengerjakan hal lain yang lebih produktif, tapi I can't do another thing but thinking about my failure...
Lalu fase setelah denial itu pun datang, yaitu fase accepted..., berusaha mengerti dan menerima kegagalan ini. Good, makanya gue sekarang nyempetin nulis buat ngabisin energi negatif yang masih kesisa.
Banyak yang pengen gue tulis. Saking banyaknya ini muter2 di kepala gue aja. Kadang gue mikir..., kalo begini, percuma dong gue defer 1 tahun..., Gue ingat perjuangan gue untuk dapet LoA dll...., yang selalu gue anggap 'kebetulan' yang semakin jelas rencana Tuhan buat mengantarkan gue ke LPDP ini...
Oh let me explain one by one, prends :
1. Gue udah berusaha ikut TOEFL, eh hanya dapet 527. Setau gue, syarat LPDP 530. Sempet down, ya ampunnn 3 point lagi...tapi ya mau gimana lagi. Eh 2019 syarat TOEFL dihilangkan. And then guest, 2020 syarat TOEFL ada lagi dan hanya 500..., suatu keberuntungan gue kan...?
2. Perjuangan dapet LoA..., gue udah itung waktu , kapan itu LPDP, berarti kapan gue harus daftar UI, kapan gue harus ketemu dosen promotor.., dll, dlll.
Penuh perjuangan bo...dan guest it, 2020 This covid's hits the world .., who knows???
Jadwal gue langsung kacau
3. Bikin LoA tu ternyata lama. Gue ikutan beasiswa kemendikbud meskipun tau ga bakalan lulus, tapi ada positifnya, LoA gue udah ada. Yang mana kalo br ngajuin pas daftar LPDP belom tentu sempet.
4. Gue udah pasrah dengan ga bakalan dibukanya LPDP taun ini due to the covid;s things. Dan dengan ajaibnya tetap buka untuk beasiswa pendidik, dan itu emang beasiswa yang gue incer..., gue nganggep itu sebagai salah satu bukti 'keberuntungan' gue selanjutnya dalam perjuangan LPDP ini. Suatu kebetulan yang semakin mengantarkan gue pada kursi S3 gue.
Can you imagine it, I have prepare this for one year !
Tapi, gue ga ngerti pas pengumuman keluar dan gue dinyatakan ga lulus administrasi. Sementara gue udah paralel nyiapin segambreng bahan wawancara dalam bahasa Indonesia dan English. Minggu2 yang penuh kebut2an, perjuangan gila2an sampe muka gue tumbuh banyak jerawat.
Sempet gue mikir..., lalu apa arti semua 'kebetulan' yang gue firasatkan?
Kalo gitu sama aja dong dengan gue ga usah daftar S3 sekalian, ga usah tau ada beasiswa sekalian, dan fokus ke karir gue as a dosen seperti sekarang? bisa nggak sih dengan pola pikir begitu?
Kalo gitu, apakah semua perjuangan gue test S3 sampai lulus, usaha persiapan LPDP, itu adalah hal yang 'sia-sia'...?
Bisakah dikatakan begitu?
Kata si Akang : Ya ga bisa begitu...perjuangan itu yang sesuatu yang memang sudah dituliskan untuk kamu lakukan, Bund..., kalo gagal ya mungkin ada sesuatuu hal baik di balik nya (nah tuh Rid...)
Usia gue yang udah tua seharusnya bisa berfikir dan menjawab nya, bukan? Tapi emang sulit kalo lagi pas kena di kita sendiri.
Bahwa ga ada sesuatu yang sia2 di dunia ini. Bahkan seekor nyamuk yang bikin gatel dan penyakit pun ga diciptakan sia2 oleh Tuhan.
Lalu, gue kan udah minta doain sama Mamah? Katanya Doa Ibu selalu makbul. Gue shalat hajat, shalat Dhuha..., berdoa siang dan malam agar gue luls beasiswa... Kok gue ga lulus?
Pertanyaan yang gue juga tau jawabannya. Bahwa Tuhan mengabulkan doa seseorang dengan cara 3 hal. Come on, you're not a child or young woman, Rid...
Gue inget doa gue : Ya Allah, lancarkan langkahku dalam mendapatkan beasiswa dan S3 ini... Tapi jika beasiswa tidak lulus, lapangkanlah dadaku agar dapat menerima ketentuan-Mu.., Karena aku tau, KAU maha tau apa yang terbaik bagiku.., yang menurutku baik, belum tentu baik menurut-MU.., karena KAU maha tau apa yang akan terjadi esok hari, sedangkan aku tidak tau. Aku telah berusaha dengan seluruh kebisaan dan usaha maksimal yang kupunya.
Nah, doa yang sangat baik bukan, jadi kalau memang gue gagal, itulah jawaban dari Tuhan, mengerti ora awak Rida???
Meskipun sulit menerima kenyataan (gue sampe mimpi orang LPDP minta maaf sama gue, ada kesalahan dan gue harusnya lolos seleksi..., nah tuh ..., ampun deh)... gue harus move on, bukankah begitu??
Jadi , pagi ini, seminggu kemudian, ceritanya gue sudah lebih cooling down, fase denial sudah lewat. Gue pun sudah berani bercerita sama si bos mengenai kegagalan gue (It's very embarassed you know..., secara gue tau bos gue udah yakin gue tembus beasiswa).
Gue pun merenung, hikmah apa yang gue dapatkan kira2 ya...:
1. Kegagalan ini mengubur 'kesombongan' gue yang begitu yakin gue lulus. Bahkan gue yakin dengan LoA gue merupakan modal besar gue. Tapi, 180 derajat berbeda bumi dan langit, LoA lah yang menggagalkan gue. How ironic it is, u c...
Walaupun gue lebih suka dibilang 'optimistis' daripada sombong...
2. Kegagalan ini menyadarkan gue jangan berfikiran terlalu meremehkan dan terlalu yakin akan sesuatu hal. Selalu ada faktor 50% yang diluar kontrol kita. It is called destiny...,
Gue terlalu yakin, terlalu excited, bahkan udah membayangkan besaran uang yang bakalan gue dapet. Jadi gue seperti tidak fokus, apa tujuan beasiswa...? hanya menambah penghasilan??
3. Belum dikabulkannya doa gue boleh jadi gue emang banyak dosa. Ngaku Rid..., emang gue banyak dosa prend..., dan ini teguran keras buat gue. Plis stop all Rid, sebelum semuanya terlambat...
(I do...and I will)
Bicara mengenai pengabulan doa, pagi ini gue browsing mengenai '3 cara Tuhan mengabulkan doa kita'...dan ada sesuatu yang menggelitik gue ..., you know, contoh yang diberikan pada artikel yang gue baca kok bisa persis banget dengan yang gue alami saat ini :
Ketiga, bisa jadi sebuah doa dikabulkan oleh Allah tapi dalam bentuk yang lain, tidak sesuai dengan apa yang diminta oleh sang Hamba. Ini dikarenakan apa yang diminta oleh sang hamba sesungguhnya tak ada maslahat dan manfaat baginya, sedangkan apa yang diberikan Allah ada manfaat dan maslahat baginya. Atau, bisa jadi apa yang diminta oleh sang hamba ada manfaatnya, namun apa yang diberikan Allah jauh lebih manfaat dan maslahat.
Seorang pelajar yang sangat ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi namun terbentur minimnya biaya, ia berdoa memohon kepada Allah untuk bisa mendapatkan beasiswa. Allah berkehendak mengabulkan permintaannya. Tapi bukan beasiswa yang diberikan kepada sang hamba. Kepadanya Allah berikan pekerjaan yang dengannya ia dapat menghasilkan uang untuk membiayai pendidikannya, dan itu—dalam pandangan Allah—bisa jadi jauh lebih manfaat bagi sang pelajar dari pada mendapatkan beasiswa.
Another coincidence?
Mungkin..., biarpun untuk saat ini gue ga berani mikir segala macam 'kebetulan' atau 'keberuntungan'.
Saat ini, gue fokus ke healing process dan berfikir mencari pengembangan diri selain jalur S3...
Sementara itu, biarkan semua berjalan mengalir seperti yang seharusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar